Valve Tuntut Penyelenggara Dota 2 GESC

Dota 2

Mantan penyelenggara turnamen Dota 2 GESC, dituntut oleh penerbit Dota 2, Valve. Valve telah mengirimkan pengacaranya untuk masalah dugaan terlambatnya pembayaran kepada pemain dan talent. Masalah ini bermula dari dua turnamen Minor yang diselenggarakannya selama Dota Circuit Pro musim 2017-2018.

Pada Maret 2018, Indonesia menjadi tuan rumah GESC Minor, kemudian dilanjutkan dengan GESC Thailand Minor pada Mei 2018. Sejumlah tim papan atas termasuk Evil Geniuses, Fnatic dan Team Secret ikut serta dalam dua turnamen tersebut. Setelah dua penyelenggaraan selesai, di sinilah akar permasalahannya.

 

kincir

Pada bulan Oktober 2018, Matt Bailey pemain dari Team Secret menerbitkan sebuah surat terbuka melalui Dota.gg. Dia menuduh GESC dan CEO Oskar Feng tidak membayar pemain yang berpartisipasi dalam acara tersebut. Bahkan talent dan operasional yang terlibat juga belum menerima bayaran mereka.

Menurut Bailey, GESC berhutang sebesar $750.000 kepada orang-orang yang terlibat di dua acara Minor tersebut. Beberapa berusaha mengklaim pembayaran mereka, tetapi tidak ada jaminan kapan mereka akan menerimanya. Janji pembayaran di bulan September 2018 pun ternyata tidak menjadi kenyataan.

“Beberapa kelompok berusaha untuk mengklaim pembayaran mereka. Mereka mengeluarkan pemberitahuan keterlambatan untuk faktur pembayaran dan berbicara dengan Feng.

“Itu berlangsung selama enam bulan terakhir. Sempat ada jaminan bahwa semua hutang akan diselesaikan pada bulan September, tetapi ternyata tidak,” kata Bailey.

kincir

Ini jelas telah melanggar aturan turnamen Dota Pro Circuit, wajar jika Valve langsung melayangkan gugatan. Turnamen DPC memiliki batas 90 hari bagi penyelenggara turnamen untuk membayar pemain dan talent.

Kejanggalan sebenarnya sudah terlihat ketika dua agenda GESC berikutnya urung berlangsung. Pada saat itu, GESC sebenarnya dijadwalkan untuk menjalankan dua turnamen lainnya. GESC Kuala Lumpur dan GESC Singapura, tak satu pun dari keduanya tersebut yang diselenggarakan.

Dot Esports kemudian membahas gugatan ini dengan salah seorang perwakilan Valve, Wakil Presiden Pemasaran, Doug Lombardi. Dia menyatakan bahwa Valve telah memutuskan hubungan dengan GESC terkait penyelenggaraan acara resmi.

GESC, yang berbasis di Singapura, digugat karena dianggap gagal menyelesaikan pembayaran di dua acara Dota 2 Minor.

“Ketika bekerja sama dengan operator turnamen, maka mereka harus melakukan pembayaran tepat waktu kepada peserta,” kata Lombardi kepada Dot Esports. “Kami rasa ini adalah masalah yang penting demi kesuksesan acara ke depannya. Apabila operator gagal menyanggupi persyaratan tersebut, maka kami akan menindaklanjutinya.”

GESC memang memiliki tujuan untuk menjadi salah satu merek esports papan atas di Asia. Namun masalah yang kembali diungkap ke publik ini otomatis telah menjatuhkan mereka. Lombardi mengungkap Valve telah mengirim gugatan tersebut ke Pengadilan Tinggi Republik Singapura sejak 8 April 2019.

Acara GESC Indonesia adalah turnamen Dota 2 pertama Valve di Indonesia yang menampilkan tim-tim besar. Baik GESC Indonesia maupun Singapura saat itu posisinya sangat penting karena memperebutkan tiket menuju Major.

Tidak banyak yang tahu tentang kelanjutan dari perusahaan GESC. Namun tampaknya mereka telah berhenti beroperasi setelah Thailand Minor berakhir. Tidak ada berita atau pembaruan yang mereka posting ke situs web resmi perusahaan terhitung sejak Mei 2018.

Sampai saat ini, perusahaan juga sama sekali belum menjalankan acara lain. Juga belum jelas tindakan apa yang telah diambil Valve sebelum mengajukan gugatan. Bagaimanapun juga, ini adalah babak baru setelah satu tahun surat terbuka dari pemain Team Secret dipublikasikan.

GESC bukan satu-satunya penyelenggara turnamen Dota 2 yang digugat karena tidak bisa membayar tepat waktu. Perusahaan StarLadder asal Inggris juga terlambat membayar talent CS: GO dan Dota 2 dalam acara resmi dari Valve awal tahun 2019 ini.

Leave a Reply