eSports Dota 2

Basis Pemain Dota 2 Mencapai Posisi Terendah

Basis pemain Dota 2 mencapai posisi terendah sepanjang sejarah game ini bulan lalu. Dilansir dari Steam Charts, rata-rata jumlah pemain per Desember 2019 hanya 384.179, dengan puncaknya 685.165. Jumlah ini menjadi yang terendah dalam satu bulan sejak Januari 2014.

Kabar ini seolah melanjutkan situasi yang selama enam bulan ini telah menjadi semakin buruk. Walaupun turnamen tingkat tertinggi Dota 2 membuat game ini terlihat baik-baik saja, tetapi pada kenyataannya tidak.

Tahun 2019 harusnya menjadi momen yang transformatif untuk permainan Dota 2, terutama dengan beberapa perubahan. Basis pemain puncak permainan MOBA ini terjadi pada tahun 2016, tetapi terus menyusut selama 2017 dan 2018.

Basis pemain Dota 2 sempat melonjak lagi pada awal 2019 karena peluncuran Dota Auto Chess. Mode permainan ini sangat populer dan menarik penggemar. Sekitar 30% dari basis pemain pada waktu-waktu tertentu memilih bermain di sana daripada mode permainan yang sebenarnya.

Tetapi, hal tren bagus tersebut menguap dengan cepat selama musim panas lalu. Itu terjadi setelah pengembang Dota Auto Chess, Drodo Studio, merilis versi stand-alone dari gim tersebut. Sementara Valve merilis spin-off berjudul Dota Underlords, dan Riot Games membuat tiruannya bertema Teamfight Tactics di LoL.

Inilah yang disebut-sebut menjadi awal penurunan tajam jumlah pemain. Sempat terjadi sedikit peningkatan minat pada permainan MOBA ini saat berlangsungnya The International 2019.

Beberapa orang mengira ini dikarenakan musim liburan dan mungkin para pemain memilih untuk memainkan game baru mereka. Tetapi, fakta menunjukkan bahwa Desember bukan bulan yang buruk untuk game. Hingga saat ini, tidak jelas apa yang menyebabkan masalah ini dan apa yang Valve dapat lakukan untuk memperbaikinya.

Lantas, apakah Dota 2 sedang di penghujung waktunya? Mungkin tidak, karena popularitas permainan ini masih cukup besar. Walaupun, penurunan basis pemain memang menjadi suatu hal yang mengejutkan.

Valve selama ini cukup transparan mengenai rencananya untuk Dota 2, sesuatu yang diterima dengan baik oleh para penggemar. Panggung profesional telah menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu berkat acara-acara berkualitas. Yang terakhir adalah ONE Esports Dota 2 World Pro Invitational di Singapura.

VPEsports

Dari permainannya sendiri, sebenarnya sudah disegarkan berkat Outlanders Update yang memperkenalkan banyak fitur gameplay baru. Sayangnya, dua hal tersebut tidak dapat menahan pemain yang semakin bergerak menjauh dari Dota 2 saat ini.

Penggemar mulai membuka diskusi tentang akar permasalahan dan melayangkan kritik keras terhadap Valve. Mereka menunjukkan banyak hal yang telah dilakukan Riot Games dengan baik terhadap League of Legends. Valve pun didorong untuk melakukan hal yang sama dengan Dota 2.

Riot Games berhasil memikat para pemainnya dan mendatangkan penggemar baru dengan hal-hal lain di luar game. Mereka mengeluarkan buku komik dan video musik yang menjadi viral. sementara Valve hanya melakukan sedikit hal untuk penggemarnya saat ini.

Dari situ, mulailah para penggemar membandingkan antara bagaimana cara Riot memperlakukan LoL dan Valve dengan Dota 2. Termasuk mengenai basis pemain global LoL yang kuat karena liga regional mereka yang dioperasikan langsung oleh Riot. Sementara sebagian besar turnamen pro Dota 2 di luar operasi Valve.

Satu topik lain yang muncul tetapi tidak ada konfirmasi tentang itu adalah Dota 2 menurun karena sudah berusia delapan tahun. Namun faktanya, Counter-Strike: Global Offensive justru sedang menikmati angka-angka yang tinggi selama beberapa bulan terakhir dan League of Legends melakukannya dengan cukup baik.

Bulan-bulan terbaik untuk Dota 2 biasanya terjadi pada kuartal pertama setiap tahun. Tetapi jika basis pemain Dota 2 terus menurun, maka Valve mungkin perlu mulai membuat beberapa gerakan yang lebih agresif.

Leave a Reply