hero-dota-2-dragon-knight-featured

Cerita Perjalanan Esports Dota Indonesia Hingga Tahun 2020

eSports Dota 2

Dota Indonesia memiliki cerita panjang tersendiri yang mungkin penuh kenangan bagi beberapa orang. Mulai dari sekadar menjadi game online di warnet, hingga sekarang berubah menjadi esports besar yang terus berkembang. Perlahan tapi pasti, atlet esports Game Online Dota 2 Indonesia juga mulai dikenal secara global.

Dota Indonesia Identik dengan Turnamen Warnet

esportsID

Dilansir dari Hybrid dan Kincir, sebelum Dota 2 berkembang pesat seperti sekarang DotA (Defense of the Ancient) sebelumnya bukanlah permainan stand-alone. Ini hanya sebuah mods atau custom map pada game Warcraft III. Permainan tersebut bisa dimainkan secara online melalui layanan resmi dari Blizzard Entertainment, yaitu Battle.Net.

Sampai akhirnya Blizzard terhalang oleh lisensi sehingga terbitlah layanan online lokal untuk Battle.Net. Sebagai wadah komunitas pecinta DotA Indonesia, saat itu Indogamer dan NusaGamer adalah dua wadah yang cukup besar. Dari situ mulailah turnamen tingkat warnet semakin berkembang.

Beberapa pemain pro yang populer saat ini mungkin pernah merasakan turnamen kecil di tingkat warnet. Hadiahnya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung sponsor dan penyelenggara acara. Tak dapat dimungkiri ajang semacam ini mampu menumbuhkan cukup banyak talenta lokal.

Salah satunya adalah mencuatnya nama tim XCN (Executioner) asal Indonesia di era DotA. Sebelum era Dota 2 dimulai, XCN adalah tim DotA yang mengerikan di wilayah Asia Tenggara. Mereka tercatat pernah meraih gelar juara di ajang Asia Dota Championship 2008.

Peralihan ke Dota 2, Bakat Indonesia Mulai Tenggelam

valve

Mulai tahun 2010, DotA akhirnya dikembangkan oleh Valve dan Steam sebagai game mandiri. Setelah bertahun-tahun hanya ‘menumpang’ di Warcraft III, Valve kemudian mengubah DotA menjadi Dota 2. Sejak saat itu, game ini memang bisa diunduh dan dimainkan secara gratis melalui platform Steam.

Di bawah Steam, komunitas Dota pun akhirnya jadi lebih stabil di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sayangnya, jika dibandingkan dengan era sebelumnya, pemain-pemain lokal justru semakin tenggelam di kancah internasional. Itu terlihat dengan tidak adanya wakil Indonesia di ajang The International, bahkan hingga sekarang.

Itu adalah turnamen esports terbesar sepanjang masa dengan hadiah satu juta USD. Sayangnya, sedikitnya regenerasi di era Dota 2 dan ketatnya persaingan di Asia Tenggara membuat bakat lokal mulai hilang. Tim-tim Indonesia pun seringkali hanya menjadi bayang-bayang sejak XCN tidak lagi aktif.

Tetapi pada 2013, akhirnya muncul organisasi lokal yang serius membentuk divisi Dota 2, yaitu RRQ. Mereka mulai merajai turnamen-turnamen lokal dan melahirkan bakat yang kini namanya dikenal di kancah internasional. Selain itu ada pula EVOS Esports dan BOOM ID yang turut meramaikan kompetisi di Asia Tenggara.

Indonesia Mulai Dipercaya Valve

kincir

Sebelum The International, Valve selalu menyelenggarakan acara Minor dan Major sebagai ajang seleksi menuju TI. Pada akhirnya, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah turnamen resmi Valve yang bertajuk GESC Minor 2018. Saat itu RRQ mewakili Indonesia untuk melawan tim-tim Dota 2 papan atas dan pemain terbaik dunia.

Setelah GESC Minor, operator turnamen ternama ESL, juga mulai melirik Indonesia. Akhirnya, diadakanlah turnamen seperti ESL Indonesia 2019 yang diikuti oleh tim-tim Dota 2 lokal. Pada Season 1 BOOM ID keluar sebagai juara, kemudian kembali meraih juara dengan nama BOOM Esports di Season 2.

Bisa dibilang ESL Indonesia Dota 2 selama dua musim adalah turnamen Dota 2 terbesar di Tanah Air. Selain memperebutkan hadiah total puluhan ribu USD, acara ini juga menjadi magnet sponsor-sponsor besar dari Tanah Air.

Individu Lebih Bersinar Daripada Tim

RRQ dan BOOM Esports pernah mengikuti ajang Minor resmi Valve, tetapi tidak banyak tim Indonesia yang berprestasi. Di luar ESL Indonesia Dota 2 Season 2, justru semakin banyak divisi Dota 2 yang dibubarkan oleh organisasinya. Divisi RRQ Dota 2 dan EVOS Esports pun telah resmi dibubarkan beberapa bulan lalu.

Sebaliknya, beberapa talenta asal Indonesia justru terlihat cukup menonjol di ajang internasional. Sebut saja Xepher, Drew, Jhocam dan InYourDream, yang sudah merasakan bersaing di kompetisi profesional Dota 2 tier 1. Dua nama terakhir adalah anggota terbaru dari tim T1, yang baru saja kembali ke Dota 2.

Selain itu, di tahun 2020 Indonesia juga akan menjadi tuan rumah ONE Esports Dota 2 World Pro Invitational Jakarta. Meski bukan turnamen resmi Valve, namun dapat dipastikan turnamen yang berlangsung bulan April ini termasuk turnamen besar. Jadi, bersiaplah menyambut kembali kompetisi akbar Dota 2 di Tanah Air.

Leave a Reply