eSports Dota 2

IeSF World Championship 2019 Tampak Seperti Turnamen Warnet

IeSF World Championship 2019 menjadi salah satu turnamen non-DPC lainnya yang berlangsung akhir tahun ini. Mempertemukan tim-tim Dota 2 dari berbagai negara, seharusnya ini menjadi turnamen yang menyenangkan. Tetapi, para peserta justru mengeluhkan tidak maksimalnya fasilitas yang disediakan oleh penyelenggara.

IeSF edisi ke-11 ini diadakan di kota Seoul, Korea Selatan, yang disebut sebagai ‘kota sucinya esports’. Turnamen ini mempertandingkan tiga judul game, yaitu Dota 2, eFootball PES2020 dan Tekken 7. Hal yang menjadi sorotan adalah seluruh acara diadakan di sebuah ‘warnet’, yang oleh penyelenggara disebut sebagai venue.

Tak heran jika turnamen ini pada akhirnya jadi terlihat seperti turnamen warnet, ditambah tak dikelola dengan baik. Mulai dari perangkat kerasnya, tempat acara hingga organisasi panitia. Salah satu yang paling keras menyuarakan keluhannya adalah Alexander “Nix” Levin, pemain HellRaisers dan tim nasional Rusia.

Dia menemukan bahwa perangkat keras yang digunakan di turnamen tersebut memang telah usang. Klien Dota 2 belum terpasang sehingga pemain harus mengunduhnya sendiri. Dalam beberapa kasus, bahkan aplikasi klien Dota 2 tak bisa dipasang di komputer.

Bukan hanya soal itu saja, tetapi tempat yang digunakan untuk penyelenggaraan IeSF World Championship 2019 terlalu sempit. Ditambah lagi TOs sama sekali tidak membantu tim peserta. Setidaknya itulah beberapa keluhan yang diungkapkan oleh Nix pada situs Dota 2 Rusia, Dota.ru.

“Di atas meja, bahkan alas mouse tidak pas,” kata Nix dikutip dari dotesports.com.

“Aku bersumpah, aku belum pernah melihat hal yang lebih buruk dari turnamen ini. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata lagi. Tidak ada orang yang bersama kami untuk membantu dan kami hanya berlima di sini.”

Usut punya usut, perangkat yang digunakan pada acara ini ternyata memang sangat jauh dari standar. Mereka hanya menggunakan monitor 50Hz dan prosesor “Pentium”, serta kartu grafis murah. Hal ini menyebabkan banyak terjadi crash saat game dijalankan.

Di sisi lain, tim dengan pengalaman profesional, harus menemukan cara baru untuk berkomunikasi dalam game. Discord dan Teamspeak tidak tersedia di sana.

“Mereka memasang Dota selama tiga jam, kami mengunduhnya, memenangkan game pertama. Itu sulit dimainkan dan tangan saya terasa sakit,” kata Nix.

“Layar tidak bergerak sekitar lima detik. Tiga pemain kami mengalami crash. Untuk memulai kembali, Anda harus menunggu 15 menit. Browser tidak berfungsi, tidak ada yang berfungsi.”

Nix bahkan mengatakan bahwa ia dan kapten tim, Yaroslav “Miposhka” Naidenov, berusaha membuat mereka didiskualifikasi. Mereka ingin menghindari venue yang menyedihkan karena sama sekali tidak ada makanan atau air untuk para pemain.

“Mereka tidak memberi kami makanan,” kata Nix. “Kami hanya punya satu botol air untuk lima orang. Saya mencoba untuk membuat tim didiskualifikasi, sehingga kami bisa lepas dari neraka ini.

Pihak penyelenggara acara sudah coba dihubungi langsung oleh Presiden FCC Rusia, Dmitry Smith. Pada akhirnya, tim Rusia menarik diri karena kondisi yang buruk dan komunikasi yang juga tidak terjalin baik. Pihak FCC merasa sangat kecewa karena IeSF dijalankan dengan kualitas organisasi yang sangat rendah.

“Kami sangat kecewa bahwa pada kompetisi ini tim kami harus menghadapi organisasi yang buruk di IESF,” kata Smith. “Misalnya, standar kompetisi esports tidak terpenuhi. Venue berubah beberapa kali, komputer tidak memenuhi persyaratan, makanan dan transfer peserta tidak terorganisir dengan baik.”

IeSF World Championshp 2019 untuk Dota 2 berakhir pada 14 Desember. Satu hal yang pasti, nomor Dota 2 berjalan tanpa tim nasional Rusia yang menarik diri.

Leave a Reply