Mengapa Popularitas Dota 2 India Meredup?

eSports Dota 2

Dalam beberapa tahun terakhir, Dota 2 India secara konsisten menjadi salah satu ajang esports paling populer. Setelah mendominasi panggung esports dengan hadiah besar, basis penggemarnya dan jumlah tim profesional meningkat. Puncak popularitasnya di India adalah pada rentang 2016-2017.

Dilansir dari esportsobserver, meskipun nominal hadiah terus meningkat dalam beberapa tahun, justru telah terjadi penurunan yang nyata. Popularitas game ini tidak lagi seperti sebelumnya, mulai dari partisipasi turnamen, jumlah penonton dan minat keseluruhan. Hal tersebut telah menyebabkan sebagian penyelenggara turnamen esports berpindah pada game lain.

Judul lain seperti PUBG Mobile atau CS: GO dianggap lebih menguntungkan untuk saat ini. Dota 2 India seolah-olah melemah, terutama ketika PUBG Mobile mampu menunjukkan kekuatannya di negara tersebut. Pada akhirnya, beberapa tim profesional Dota 2 dibubarkan oleh organisasinya.

Pada awal 2019, gairah Dota 2 masih ada di India dengan banyaknya organisasi esports yang membentuk tim. Sebut saja seperti Entity Gaming, Signify, Reckoning Esports, hingga Global Esports. Mereka bersaing untuk memperebutkan hadiah di sejumlah turnamen besar India.

Namun, menjelang pada akhir tahun ini, tidak satu pun dari organisasi tadi yang masih memiliki tim Dota 2. Signify menjadi tim yang pertama dibubarkan dengan dalih khawatir dengan konflik kepentingan. Mereka membubarkan roster tim Dota 2 dan CS: GO.

Setelah meninggalkan panggung Dota 2, Entity Gaming dan Reckoning Esports menyusul. Mereka membubarkan skuat tanpa pengumuman apa pun kepada publik. Padahal, kedua tim tersebut menunjukkan permainan yang cukup baik untuk acara-acara LAN lokal.

Sampai akhirnya, salah satu tim dari organisasi terbesar India, Global Esports, juga mengikuti jejak tiga tim sebelumnya. Tim Dota 2 Global Esports dibubarkan pada 15 Desember lalu. Menurut pengumuman resmi organisasi, mereka mengacu pada penurunan jumlah penonton yang kemudian menjadi alasan utama atas keputusan ini.

“Berdasarkan tanggapan dari komunitas dan jumlah pemirsa yang menonton, terjadi penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Mempertimbangkan semua yang telah kami pelajari, kami memutuskan untuk mengundurkan diri dari Dota 2 di India,” tulis Global Esports dalam pengumuman resmi mereka.

Sejumlah organisasi baru sebenarnya telah mengumumkan untuk terjun ke ekosistem esports India. Orange Rock Esports dan Fnatic misalnya, mereka telah menunjukkan eksistensinya di India selama beberapa waktu terakhir. Namun, sepertinya mereka masih enggan membentuk tim Dota 2 dalam waktu dekat ini.

Tanpa pendapatan bulanan yang stabil dan dijamin organisasi profesional, memang sulit untuk melihat Dota 2 berkembang. Tidak banyak pemain Dota 2 hebat yang muncul dari India.

Pertama adalah masalah penonton yang menurun dan berpindah ke game lain. Sebagian besar turnamen di India disiarkan di platform streaming seperti Hotstar atau Voot, yang bukan platform populer. Data jumlah pemirsa dari kedua turnamen tersebut pun tidak tersedia.

Baru WESG 2019 Asia Selatan dan Taiwan Excellence Cup 2019 yang akhirnya muncul di Twitch dan YouTube. Maka dari itu, data untuk kedua acara tersebut tersedia.

Meski demikian, perbandingannya sangat jauh dengan turnamen PUBG Mobile seperti PMCO 2019 atau turnamen Free Fire Garena. Ditambah lagi frekuensi turnamen Dota 2 di India juga mulai mengering. Mengawali tahun dengan ESL One Mumbai 2019, tetapi sepanjang tahun frekuensi turnamen besar sangat menurun.

Dengan tidak adanya bakat baru yang baru muncul dan pemain yang itu-itu saja, wajar jika pemirsa Dota 2 India menurun. Pada gilirannya, ini akan menyebabkan keruntuhan ekosistem secara besar-besaran. Kecuali Valve sendiri yang melakukan intervensi dengan fokus menangani masalah tersebut di India atau Asia Selatan.

Leave a Reply