eSports Dota 2

OG Layangkan Sanksi Keras Untuk Ceb

OG berikan sanksi telak untuk pemainnya karena telah melakukan komentar berbau SARA. Lagi-lagi kasus rasisme kembali terjadi pada dunia esports. Kali ini, kasus rasisme ini menimpa salah satu pemain andalan OG, yaitu Ceb. Ia melakukan komentar berbau Sara saat melakukan pertandingan solo rank Dota 2.

Sebagai salah satu pemain yang cukup mempunyai popularitas dan dikenal luas oleh masyarakat, kasus tersebut pun segera membuat publik heboh. Komentar rasis dari seorang public figur sekaligus pemenang kejuaraan The International 8 ini langsung mendapat kecaman dari komunitas.

Kasus rasisme tersebut terkuak melalui tangkapan layar yang diambil oleh salah satu pemain dalam sebuah match. Match tersebut adalah match dengan id: 4776898273. Pada tangkapan layar tersebut, Ceb menggunakan kata “Necropos” untuk melakukan sebuah tindakan SARA terhadap salah satu pemain Rusia setelah memperebutkan item Aegis. Hal ini tentu saja langsung mencoreng citranya sebagai salah satu pemain profesional yang penuh prestasi. Sebagai pemenang dari The International 8, Ceb seharusnya tahu bahwa komentar rasisnya tersebut bisa membawa masalah pada dirinya, terlebih untuk kariernya di dunia esports.

Menanggapi kasus ini, OG sebagai organisasi yang menaungi Ceb segera memberikan pernyataan resminya melalui akun Facebook mereka. Melalui postingan resmi di akun Facebook mereka, OG telah menyatakan bahwa mereka siap untuk memberikan hukuman yang pantas untuk Ceb. Denda yang diberikan pun tak main-main. Mereka siap memberikan semua penghasilan yang didapat dari EPICENTER Major untuk disumbangkan ke lembaga amal.

Tak hanya itu, sebagai permintaan maaf, OG nantinya juga akan bekerja sama dengan Virtus.pro untuk membuat pertandingan uji coba dengan tujuan sebagai pertandingan hiburan pada laga EPICENTER Major nanti.

Sepanjang musim DPC 2018 hingga 2019 ini, sudah ada sedikitnya 3 kasus rasisme yang dilakukan oleh para atlet professional Dota 2. Kasus pertama dilakukan oleh Andrei Gabriel “Skemberlu” Ong yang merupakan pemain asal Filipina. Kasus kedua dilakukan oleh Carlo “Kuku” Palad yang telah melakukan chat all yang juga bernada rasisme. Kedua kasus ini juga membuat publik geram, terutama masyarakat tiongkok. Lalu, yang baru saja terjadi adalah kasus yang menimpa Sebastian “Ceb” Debs yang menuliskan chat rasis untuk pemain Rusia.

Dari ketiga kasus di atas, dua kasus yang sangat banyak menyita perhatian masyarakat, khususnya pecinta permainan Dota 2, adalah kasus Kuku dan Ceb. Untuk Kuku sendiri, ia dilarang hadir dalam Chongqing Major 2019 oleh Valve. Untuk Ceb sendiri, ia masih tetap diperbolehkan untuk menghadiri kejuaraan EPICENTER Major 2019. Akan tetapi, OG menghukumnya dengan memberlakukan denda dari seluruh penghasilan yang didapatkan saat menghadiri EPICENTER Major.

Melihat dua kasus ini, publik merasakan adanya ketidakadilan yang dilakukan Valve dalam menyelesaikan kasus rasisme antara Kuku dan juga Ceb. Dari dua sanksi yang disebutkan di atas, publik meyakini bahwa Valve sedang “pilih kasih”.

Kesan tersebut mungkin terjadi akibat perbedaan tekanan dari kedua komunitas. Seperti yang kita tahu, komunitas Dota 2 di Tiongkok merespon dengan lebih ganas isu-isu yang menyangkut rasisme. Sementara di Rusia, meski publik mengecam tindakan rasisme ini, tekanan yang diberikan oleh komunitas tak begitu berat. Itulah mengapa Ceb masih bisa hadir dalam pertandingan EPICENTER Major 2019.

Apa pun sanksi yang diberikan, seorang pemain profesional sebaiknya menghindari komentar-komentar yang berbau SARA. Isu semacam ini sangat panas dan mampu menyulut emosi publik. Jika ingin bermain aman, para profesional harus bisa menjaga sikap mereka.

 

 

Leave a Reply