Pengalaman Dendi Bermain di Esports Asia Tenggara

eSports Dota 2

Esports Asia Tenggara menjadi ‘rumah’ baru bagi pemain Dota 2 veteran, Danil “Dendi” Ishutin. Itu setelah dia membentuk tim sendiri di wilayah tersebut dan langsung berhasil meraih gelar juara sebuah turnamen belum lama ini. Akan tetapi, saat ini yang sedang menjadi perhatian Dendi adalah WePlay! Bukovel Minor.

Diselenggarakan di daerah pegunungan Carpathians, Ukraina, venue Bukovel Minor hanya tiga jam dari kota asal Dendi. Dia pun merasa tidak bisa melewatkan pertandingan yang berlangsung di dekat kotanya itu. Sehari sebelum dimulainya turnamen, VPEsports sempat bertemu dan berbincang dengan Dendi di Bukovel.

Dendi berbicara tentang proyek barunya dan bagaimana kariernya di esports Asia Tenggara setelah dia meninggalkan Na’Vi.

“Selama sekitar satu tahun ini saya jadi lebih bebas atau seperti memiliki lebih banyak waktu untuk diri saya sendiri. Saya tidak bermain dengan siapa pun sampai bergabung dengan Tiger, jadi ada waktu untuk berpikir. Tetapi hidup saya tidak banyak berubah karena saya masih berlatih sepanjang waktu,” katanya tentang kesibukannya saat ini.

“Saya masih memiliki target pribadi dan saya akan melakukan segalanya untuk mencapai itu. Secara keseluruhan, saya merasakan semacam kebebasan untuk sementara waktu. Anda tahu, ketika masih di Na’Vi, ada banyak tekanan dari luar, setelah itu, saya punya waktu untuk sekadar bersantai.”

Setelah delapan tahun bersama Na’Vi, memang agak mengejutkan Dendi memutuskan untuk berpetualang di Asia Tenggara. Banyak pertanyaan yang muncul mengapa dia begitu antusias dengan itu hingga akhirnya bergabung dengan Tiger.

“Sejujurnya, saya sudah siap untuk pindah ke Amerika utara atau Asia Tenggara, atau daerah lain. Mungkin tidak ke Tiongkok karena ada kendala bahasa.”

Saat tidak memiliki tim, Dendi memang sempat diajak untuk bergabung dengan Tiger sebagai stand-in. Saat itu dia melihat adanya potensi di tim tersebut, termasuk karena adanya Xepher, pemain asal Indonesia.

“Itu adalah pengalaman yang sangat bagus bagi saya. Saya ingin meningkatkan pengetahuan dan ingin belajar lebih banyak tentang menjadi pemimpin yang baik. Jadi, pengalaman di Tiger memberikan saya banyak hal positif, tidak peduli bagaimana proyek itu berjalan.”

Setelah berpisah dengan Tiger, Dendi pun kemudian memberi kode untuk membentuk organisasi sendiri. Saat ini, dia dan timnya sedang berjuang menghadapi kendala yang cukup menyulitkan. Baru-baru ini dua pemain tim Dendi pergi ke organisasi lain.

Jadi, apakah tim tersebut masih akan ada dalam waktu dekat ini? Dendi menjawab: “Masalahnya adalah bahwa tim mana pun akan selalu memiliki masalah dari berbagai macam hal. Pada akhirnya, Anda akan mengalami masalah juga, dan biasanya, Anda akan mencoba untuk memperbaiki masalah tersebut.

“Tetapi dengan para pemain yang sangat muda, itu sedikit lebih rumit. Sementara pemain senior akan berusaha menyelesaikan masalah, pemain muda tidak seperti itu. Mereka akan segera mencari peluang lain yang tersedia dan ini sering terjadi pada pemain muda,” jelasnya.

Saat ini Dendi sedang berada di kota asalnya di dekat Bukovel untuk menyaksikan Minor DPC pertama tahun ini. Yang tidak banyak orang tahu adalah, semua orang mendarat di Lviv sebelum bertolak ke Bukovel. Di mana Lviv adalah kota asal Dendi, yang terkenal dengan keindahannya.

“Ya, itu benar. Semua orang mendarat di Lviv, tetapi tidak ada yang benar-benar punya waktu untuk melihat keindahan kota.”

Setelah ini Dendi sepertinya akan kembali fokus mengatasi masalah yang terjadi di timnya saat ini. Bermain di esports Asia Tenggara memang menjadi tantangan yang tidak mudah. Tetapi dengan potensi yang dimiliki, tidak menutup kemungkinan tim Dendi akan menjadi besar di sana.

Leave a Reply