The International
eSports Dota 2

Virtus Pro Kembali Kalah Dari PSG.LGD di TI9

Keberlangsungan main event The International 9 Dota 2 dibuka dengan match antara Virtus Pro melawan PSG.LGD. Ini adalah pertempuran penuh talenta yang jadi perbincangan hangat tiga tahun belakangan ini. Pasalnya, permainan berkelas dan skill yang tak biasa kerap kali ditampilkan para roaster tim kala pertempuran sedang berlangsung. Sayang, pertarungan besar yang sudah terjadi selama tiga tahun ini masih memberi hasil akhir buruk bagi Virtus Pro.

The International
The International

Virtus Pro lagi-lagi tumbang di tangan PSG.LGD pada ajang The International semenjak TI7 hingga TI9. Entah kenapa tanpa alasan yang jelas, hasil akhir ini terjadi sama seperti tiga tahun sebelumnya. Lucunya lagi, banyak meme yang beredar tentang Virtus Pro yang dipublikasikan dengan bahasa analogi (perumpamaan). Karena kalah di main event The International 9, Virtus Pro dibuatkan meme seperti beruang ganas jadi panda lucu.

Sepertinya tindakan menganalogikan Transformasi Virtus Pro dari beruang ganas jadi panda lucu adalah tindakan yang keterlaluan. Candaan para penggemar Dota 2 tersebut terkesan terlalu menyindir para roaster dan managemen Virtus Pro. Sebenarnya apakah yang terjadi pada tim ini hingga lagi-lagi tumbang oleh PSG.LGD di main event The International 9? Mungkin jawaban yang paling tepat adalah penurunan performa Virtus Pro yang ditunjukan dari tahun ke tahun.

The International
The International

Jika kita menyaksikan ajang The International tiga tahun terakhir ini, Virtus Pro memang memperlihatkan degradasi prestasi. Jika asumsi lain mengatakan performa mereka tidak menurun, berarti tim-tim lain lah yang menjadi lebih kuat dibanding mereka. Virtus Pro belum meraih trofi di ranah musim 2019 hingga The International 9 diselenggarakan. Virtus Pro hanya jadi runner-up di Chongqing Major dan Dream League Season 11 serta peringkat tiga pada Epicenter Major.

Jika melihat di tahun 2018, perbandingan prestasi mereka tentu jauh lebih meyakinkan dibandingkan sekarang ini. Mereka berhasil meraih gelar juara pada ESL One Katowice, Bucharest Major, ESL One Brimingham dan Kuala Lumpur Major. Virtus Pro tak pernah keluar dari tiga besar pada tahun itu, sampai datangnya The International yang menyudahinya di posisi 5-6. Memang hal biasa bila ada tim raksasa Dota 2 yang bertaring pada kompetisi pra-TI kemudian sakit gigi ketika memasuki The International.

The International
The International

Salah satu tim kehilangan taring dan bernasib hampir mirip dengan Virtus Pro adalah Team Secret. Namun Secret menampilkan performa lebih yang lebih stabil ditimbang Virtus Pro. Sementara itu, Liquid dan EG jadi tim yang memilih untuk babak belur di awal match lalu memanas pada ujung permainan. Kemudian untuk Team CIS, sepertinya tahun ini akan mendapat cerita yang sama jika melihat tiada lawan enteng yang diterima.

Kembali pada Virtus Pro yang sedang merosot dalam prestasi, sepertinya mereka butuh pengakuan sebagai tim terkuat dunia. Itu memang harus dilakukan oleh para pendukungnya walaupun sampai saat ini mereka belum menjawab ekspektasi. Mungkin mereka berpikir bahwa prestasi yang telah dicapai sebelum TI, sudah sangat cukup bagi mereka. Namun nyatanya, juara sejati Dota 2 hanya lahir dari ajang The International yang mempertemukan tim-tim besar.

Sebagai pendukung Virtus Pro, alangkah baiknya jika kita doakan semoga prestasi mereka bisa melambung tinggi lagi. Kita juga bisa belajar dari mereka bahwa untuk dapat survive dalam kehidupan, tentu harus siap dengan segala perubahan. Termasuk perubahan persaingan yang begitu cepat seperti halnya persaingan dalam main event The International 9. Semoga informasi ini bermanfaat, dan jangan lupa untuk mengikuti berita seputar Dota 2 selanjutnya.

Leave a Reply